the critics for bambang’s paper
Additional Notes
Rumusan Masalah : Mengapa
Indonesia
mengambil keputusan untuk mengajukan proposal REDD (Reducing Emission From Deforestation and Degradation) ?
Hipotesa : 1. Motivasi yang menjadi dasar pengambilan keputusan pengajuan proposal tersebut adalah motivasi ekonomi
2. Motivasi berikutnya yang menjadi dasar pengambilan keputusan pengajuan proposal tersebut adalah motivasi kepedulian
Indonesia
kepada lingkungan
Batasan Waktu : Analisa Bambang dimulai dari rentang waktu Conference of Party ke-11 Perubahan Iklim di Montreal-Kanada tahun 2005 sampai Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim di Bali pada tahun 2007.
Kerangka Teoretis : Bambang memakai Decision Making Theory (Snyder) beserta Konsep ‘Rational Actors’ (Graham T. Allison) sebagai pisau analisa dalam risetnya tentang inisiatif REDD
Indonesia
ini. Sedangkan International Political Economy Approach menjadi pilihan Bambang untuk memverifikasi kedua poin hipotesanya tentang motif
Indonesia
dalam pengajuan proposal REDD.
The Critics
Questions :
1. Mengapa Bambang memilih stand point negara berkembang dalam papernya?
2. Apakah pengajuan proposal REDD yang dilakukan
Indonesia
bersifat bilateral, ataukah multilateral?
3. Apakah penerapan REDD memiliki konsekuensi logis terhapusnya tanggung jawab kepedulian lingkungan – yang seharusnya juga dimiliki – negara maju?
Suggestions :
1. International Political Economy bukanlah pendekatan yang tepat bagi aspek kajian lingkungan yang dipilih Bambang. Hal ini disebabkan oleh adanya poin kedua hipotesis yang mengandung klaim kepedulian lingkungan (environmental concern) di mana poin tersebut tidak mengandung aspek motivasi ekonomis. Environmental Approach dengan klaim kepedulian lingkungannya, merupakan pendekatan yang dirasa lebih tepat untuk digunakan.
Di sisi lain, apabila Bambang memutuskan untuk menggunakan Environmental Approach sebagai pengganti dari International Political Economy Approach, maka Konsep ‘Rational Actors’ (Allison) tidak dapat menjadi pisau analisa yang memadai, karena konsep tersebut memiliki asumsi dasar penghitungan untung-rugi (Cost-Benefit Analysis) yang tidak dapat diterapkan dalam klaim kepedulian lingkungan.
2. Sebenarnya, terdapat orientasi alternatif untuk riset yang dilakukan bambang. Tentunya akan menjadi lebih menarik jika topik proposal REDD ini dilihat dari perspektif negara maju. Bambang dapat memulai risetnya dari pertanyaan, “kepentingan apakah yang tersembunyi di balik dukungan dan persetujuan negara maju terhadap proposal REDD?”. Tema ‘hidden agenda’ merupakan salah satu lini kajian yang masih menarik sampai saat ini, di samping itu, dengan tema tersebut paper bambang tidak hanya terbatas pada bahasan deskriptif namun dapat menyertakan bahasan analitis yang cukup mendalam.
Orientasi alternatif ini dapat dianalisa melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan Marxist – dengan hipotesa ‘bahwa persetujuan negara maju terhadap proposal REDD merupakan bentuk manuver politik internasional dari negara maju yang bertujuan menghambat pertumbuhan sector industri dan perekonomian negara berkembang – atau pendekatan geopolitik – dengan hipotesa bahwa areal hutan merupakan sumber daya yang langka dan bernilai ekonomis tinggi pada saat ini, sehingga REDD merupakan jalan masuk bagi penguasaan sumber daya kehutanan yang dilakukan oleh negara maju.