Studi Komparasi Penanganan Isu Terorisme Antara Indonesia-Thailand
Wednesday, April 16th, 2008Latar Belakang
Terorisme [1] jika kita lihat dari sejarahnya bukanlah sebuah isu baru. Namun perkembangan zaman membawa dampak yang cukup signifikan terhadap perubahan isu ini yang pada beberapa tahun terakhir menjadi isu global. Jika bermula pada tahun 2001 dengan mengambil tempat di Benua Amerika. Dengan sangat cepat isu ini pun melanda kawasan Asia Tenggara khususnya
Indonesia dan
Thailand .
Di Indonesia, isu terorisme berawal dari kasus pemboman yang terjadi di
Bali pada akhir tahun 2004. Isu ini semakin santer ketika kasus pengeboman lain mulai terjadi beberapa kali. Tidak hanya mengambil tempat di
Bali , tapi juga
Jakarta . Dalam lingkup kecil sebagai contoh
Bali , isu terorisme membawa dampak yang cukup besar bagi perekonomian daerah tersebut. Terutama dalam bidang industri pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian wilayah tersebut. Hal ini mempengaruhi jumlah kunjungan wisata dari yang sebelumnya sekitar 5000 orang per hari. Pada bulan Oktober 2002 setelah terjadinya kasus pemboman di kuta rata-rata kedatangan turis hanya mencapai 1.335 orang per hari. Bahkan pada bulan ini angka kedatangan turis sempat mencapai titik terendah, yaitu sekitar 768 orang dalam sehari Bali dan
Indonesia pada umumnya. Imej ini mempengaruhi perlakuan dan kepercayaan negara lain kepada
Indonesia , puncaknya saat beberapa negara seperti AS menerapkan Travel Warning terhadap
Indonesia .
Thailand sebagai salah satu negara yang juga terkenal dengan pariwisatanya selama ini, tidak juga terlepas dari isu terorisme ini. Meskipun ada indikasi bahwa di negaranya juga terdapat jaringan terorisme. Pemerintah
Thailand dapat menepis isu tersebut. Meskipun secara tersirat perpolitikan
Thailand tidak stabil, hal ini dapat diamati melalui terjadinya kudeta tidak berdarah atas pemimpin pemerintahan (PM Sinawatra) pada tahun 2006. Penguatan perekonomian
Thailand pasca krisis moneter yang sangat baik jika dibandingkan dengan
Indonesia . Jika
Indonesia mengalami penurunan dalam segi kepercayaan negara lain dalam kasus terorisme, hal ini tidak terjadi pada
Thailand . Sebagai buktinya, Travel Warning tidak dijatuhkan kepada
Thailand oleh pemerintah AS.
Rumusan Masalah
Seberapa efektif / sukses penanganan isu terorisme di
Thailand dan
Indonesia ?
Kerangka Dasar Teori
Untuk menganalisa fenomena yang terjadi di kedua negara serta memperbandingkannya, maka akan digunakan Teori Pembuatan Kebijakan. Menurut Richard C.Snyder, Teori Pembuatan Kebijakan berasumsi bahwa:
“Proses yang menyangkut pemilihan dari sejumlah masalah yang terbentuk secara sosial, pemilihan sasaran alternatif yang ingin diterapkan dalam urusan negara yang dipikirkan oleh pembuat keputusan esensi dari tiap pembuatan keputusan adalah memilih diantara berbagai kemungkinan yang ada demi kesinambungan kehidupan suatu bangsa[3] “.
Menurut Abdul Said dan Charles Larche, Teori Pembuatan Kebijakan adalah:
“teori tentang proses pengambilan keputusan di mana pengambilan keputusan ini dilatar-belakangi oleh politik, ekonomi, sosial, dll[4]”.
Hipotesa
Thailand lebih efektif dalam mengatasi masalah isu terorisme di negaranya dibandingkan dengan
Indonesia . Hal ini dikarenakan beberapa faktor: faktor sosio-kultural, kebijakan pemerintah yang tegas untuk mengatasi isu tersebut, serta kehidupan politik
Thailand yang independen atau tidak mempengaruhi sektor lain jika suatu waktu terjadi pergolakan politik. Semua faktor diatas, disinyalir menjadikan
Thailand sukses menghambat perkembangan isu terorisme di negaranya.
Imej ‘baik’ yang tercipta berkat kebijakan tersebut menumbuhkan kepercayaan negara lain terhadap
Thailand . Kepercayaan ini dapat diamati dengan tidak terlalu terpengaruhnya jumlah turis mancanegara yang datang mengunjungi
Thailand , serta terus berkembangnya perekonomian
Thailand terutama melalui kepercayaan dari para investor yang menanamkan modalnya di
Thailand .
Seperti yang kita ketahui bahwa keamanan merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan investor dalam menanamkan modal. Perbaikan ekonomi
Thailand ini dapat diamati pada pasca krisis moneter yang menimpa hampir seluruh negara Asia Tenggara.
Para turis dan investor seolah tidak terpengaruh isu meskipun pada saat yang bersamaan, kegiatan sekelompok orang di ketiga provinsi
Thailand disebut memiliki hubungan dengan jaringan terorisme internasional. Dari beberapa hal diatas penulis berasumsi bahwa
Thailand lebih sukses dalam menanggulangi isu terorisme, dengan kata lain, kebijakan
Thailand relatif berhasil dalam menciptakan imej baik terhadap negara lain jika dibandingkan dengan
Indonesia .
[1] Terorisme disini mengarah pada definisi terorisme menurut Amerika Serikat:
“…activities that involve violent … or life-threatening acts … that are a violation of the criminal laws of the
US or of any state and … appear to be intended (i) to intimidate or coerce a civilian population; (ii) to influence the policy of a government by intimidation or coercion; or (iii) to affect the conduct of a government by mass destruction, assassination, or kidnapping; and … (C) occur primarily within the territorial jurisdiction of the US … (or) … (C) occur primarily outside the territorial jurisdiction of the US …”. diambil dari:
[2] Pertampilan S.Brahmana, “Hama Dalam Industri Pariwisata”, http://brahmana-medan.blog.com/1188948/ diakses pada tanggal 6 Januari 2008
[3] Richard C.Snyder, 1963, Foreign Policy Decision Making, Gramedia :
Jakarta
[4] Abdul Said & Charles Larche, 1963, Concepts of International Politics, Englewood Cliff: NJ Prentice Hall, hal. 32