Studi Komparasi Penanganan Isu Terorisme Antara Indonesia-Thailand

Latar Belakang

Terorisme [1] jika kita lihat dari sejarahnya bukanlah sebuah isu baru. Namun perkembangan zaman membawa dampak yang cukup signifikan terhadap perubahan isu ini yang pada beberapa tahun terakhir menjadi isu global. Jika bermula pada tahun 2001 dengan mengambil tempat di Benua Amerika. Dengan sangat cepat isu ini pun melanda kawasan Asia Tenggara khususnya

Indonesia

dan

Thailand

.

Di Indonesia, isu terorisme berawal dari kasus pemboman yang terjadi di

Bali

pada akhir tahun 2004. Isu ini semakin santer ketika kasus pengeboman lain mulai terjadi beberapa kali. Tidak hanya mengambil tempat di

Bali

, tapi juga

Jakarta

. Dalam lingkup kecil sebagai contoh

Bali

, isu terorisme membawa dampak yang cukup besar bagi perekonomian daerah tersebut. Terutama dalam bidang industri pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian wilayah tersebut. Hal ini mempengaruhi jumlah kunjungan wisata dari yang sebelumnya sekitar 5000 orang per hari. Pada bulan Oktober 2002 setelah terjadinya kasus pemboman di kuta rata-rata kedatangan turis hanya mencapai 1.335 orang per hari. Bahkan pada bulan ini angka kedatangan turis sempat mencapai titik terendah, yaitu sekitar 768 orang dalam sehari[2]. Isu terorisme membawa imej buruk bagi

Bali

dan

Indonesia

pada umumnya. Imej ini mempengaruhi perlakuan dan kepercayaan negara lain kepada

Indonesia

, puncaknya saat beberapa negara seperti AS menerapkan Travel Warning terhadap

Indonesia

.

Thailand

sebagai salah satu negara yang juga terkenal dengan pariwisatanya selama ini, tidak juga terlepas dari isu terorisme ini. Meskipun ada indikasi bahwa di negaranya juga terdapat jaringan terorisme. Pemerintah

Thailand

dapat menepis isu tersebut. Meskipun secara tersirat perpolitikan

Thailand

tidak stabil, hal ini dapat diamati melalui terjadinya kudeta tidak berdarah atas pemimpin pemerintahan (PM Sinawatra) pada tahun 2006. Penguatan perekonomian

Thailand

pasca krisis moneter yang sangat baik jika dibandingkan dengan

Indonesia

. Jika

Indonesia

mengalami penurunan dalam segi kepercayaan negara lain dalam kasus terorisme, hal ini tidak terjadi pada

Thailand

. Sebagai buktinya, Travel Warning tidak dijatuhkan kepada

Thailand

oleh pemerintah AS.

Rumusan Masalah

Seberapa efektif / sukses penanganan isu terorisme di

Thailand

dan

Indonesia

?

Kerangka Dasar Teori

Untuk menganalisa fenomena yang terjadi di kedua negara serta memperbandingkannya, maka akan digunakan Teori Pembuatan Kebijakan. Menurut Richard C.Snyder, Teori Pembuatan Kebijakan berasumsi bahwa:

“Proses yang menyangkut pemilihan dari sejumlah masalah yang terbentuk secara sosial, pemilihan sasaran alternatif yang ingin diterapkan dalam urusan negara yang dipikirkan oleh pembuat keputusan esensi dari tiap pembuatan keputusan adalah memilih diantara berbagai kemungkinan yang ada demi kesinambungan kehidupan suatu bangsa[3] “.

Menurut Abdul Said dan Charles Larche, Teori Pembuatan Kebijakan adalah:

“teori tentang proses pengambilan keputusan di mana pengambilan keputusan ini dilatar-belakangi oleh politik, ekonomi, sosial, dll[4]”.

Hipotesa

Thailand

lebih efektif dalam mengatasi masalah isu terorisme di negaranya dibandingkan dengan

Indonesia

. Hal ini dikarenakan beberapa faktor: faktor sosio-kultural, kebijakan pemerintah yang tegas untuk mengatasi isu tersebut, serta kehidupan politik

Thailand

yang independen atau tidak mempengaruhi sektor lain jika suatu waktu terjadi pergolakan politik. Semua faktor diatas, disinyalir menjadikan

Thailand

sukses menghambat perkembangan isu terorisme di negaranya.

Imej ‘baik’ yang tercipta berkat kebijakan tersebut menumbuhkan kepercayaan negara lain terhadap

Thailand

. Kepercayaan ini dapat diamati dengan tidak terlalu terpengaruhnya jumlah turis mancanegara yang datang mengunjungi

Thailand

, serta terus berkembangnya perekonomian

Thailand

terutama melalui kepercayaan dari para investor yang menanamkan modalnya di

Thailand

.

Seperti yang kita ketahui bahwa keamanan merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan investor dalam menanamkan modal. Perbaikan ekonomi

Thailand

ini dapat diamati pada pasca krisis moneter yang menimpa hampir seluruh negara Asia Tenggara.

Para

turis dan investor seolah tidak terpengaruh isu meskipun pada saat yang bersamaan, kegiatan sekelompok orang di ketiga provinsi

Thailand

disebut memiliki hubungan dengan jaringan terorisme internasional. Dari beberapa hal diatas penulis berasumsi bahwa

Thailand

lebih sukses dalam menanggulangi isu terorisme, dengan kata lain, kebijakan

Thailand

relatif berhasil dalam menciptakan imej baik terhadap negara lain jika dibandingkan dengan

Indonesia

.



[1] Terorisme disini mengarah pada definisi terorisme menurut Amerika Serikat:

“…activities that involve violent … or life-threatening acts … that are a violation of the criminal laws of the

US

or of any state and … appear to be intended (i) to intimidate or coerce a civilian population; (ii) to influence the policy of a government by intimidation or coercion; or (iii) to affect the conduct of a government by mass destruction, assassination, or kidnapping; and … (C) occur primarily within the territorial jurisdiction of the US … (or) … (C) occur primarily outside the territorial jurisdiction of the US …”. diambil dari: http://en.wikipedia.org/wiki/definition_of_terrorism diakses pada 14 maret 2008

[2] Pertampilan S.Brahmana, “Hama Dalam Industri Pariwisata”, http://brahmana-medan.blog.com/1188948/ diakses pada tanggal 6 Januari 2008

[3] Richard C.Snyder, 1963, Foreign Policy Decision Making, Gramedia :

Jakarta

[4] Abdul Said & Charles Larche, 1963, Concepts of International Politics, Englewood Cliff: NJ Prentice Hall, hal. 32

Leave a Reply